AKIBAT INI , NISSA SABYAN KENA BATUNYA ? SERANGAN PERTAMA KEPADA NISSA SABYAN


SERANGAN PERTAMA KEPADA NISSA SABYAN

Bener kan? Sewaktu Nissa Sabyan memutuskan bergabung ke kubu 02, saya menduga akan ada serangan dari dalam kolam, dan korak-korek masa lalu neng Nissa.  Awalnya  cuma ganguan kecil soal gambar Nissa yang memakai jaket almamater PMII. Anggap saja buat lucu-lucuan. Serangan pertama yang lumayan kampungan datang dari Qureta.

Di bawah judul "Paradoks Deen Assalam Nissa Sabyan" tulisan di Qureta ini  noraknya minta ampun. Lagu lama yang diputar ulang sampai lecek. Terpaksa saya copas beberapa paragraph daripada saya dituduh nyebar hoax. Cuma saran saya, sebelum membaca, minum antimo dulu.

-----------------------
Di barisan 02, bercokol Front Pembela Islam (FPI), para eks Hizbut Tahrir Indonesia, serta orang-orang dan/atau kelompok dengan rekam jejak yang jauh, bahkan memusuhi toleransi dan perdamaian.

Sabyan telah menyempitkan seluruh bumi karena telah memilih berada di barisan kelompok tanpa toleransi. Sabyan tak lagi hidup dengan cinta karena satu kubu dengan FPI yang gemar mempersekusi kelompok minoritas seperti Ahmadiyah.

Tak seperti lagu Deen Assalam yang dinyanyikannya, Sabyan dan vokalisnya tak menunjukkan perilaku mulia dan damai karena satu blok dengan orang yang gemar mengkafir-kafirkan orang lain.

Sabyan tak lagi menyebarkan ucapan yang manis karena satu kamar dengan Gus Nur dan Bahar Smith yang hobi mengeluarkan ujaran kebencian, umpatan, hujatan, serta hinaan. Sabyan tak lagi menghiasi dunia dengan sikap yang hormat, cinta, dan senyuman karena satu barisan dengan kelompok yang selalu mempolitisasi agama.

Di media sosial, sempat beredar semacam infografis yang menerangkan bahwa merapatnya Sabyan ke kubu 02 karena pundi-pundi yang besar yang Sabyan terima, baik karena uang ataupun karena keyakinan politik.

Sabyan boleh saja menentukan sikap politik itu. Namun sangat disayangkan, Sabyan yang digadang-gadang pelopor salawat untuk kalangan milenial sekaligus membawa pesan-pesan toleransi malah bergabung dengan kelompok yang intoleran.
Silakan pantau rekam jejak FPI. Berapa kali kelompok ini membubarkan ibadah di Gereja, mempersekusi orang atau kelompok yang berbeda keyakinan, barbar merusak bar sambil teriak Allahuakbar, serta
merusak yang tak sepandangan dengannya.

https://www.qureta.com/post/paradoks-deen-assalam-nissa-sabyan

-----------------------------

Ini jelas setali tiga uang  dengan hujatan yang dulu ditujukan pada barisan Anies-Sandi. Anies-Sandi dituduh akan menjadikan Jakarta menjadi kota syariah. Itu belum seberapa. Kota Jakarta digambarkan akan hancur lebur seperti kota-kota di Suriah. Non muslim akan ditekan habi-habisan. Diibaratkan tentara Suriah sudah berada di halaman rumah warga Jakarta. Padahal yang terjadi sehari jelang Pilkada adalah sembako berisi mie isntan dan minyak goreng plus gula pasir campur baju kotak-kotak yang disangkutkan di pagar warga Jakarta.

Politik ketakutan itu menjadi sah karena Ahok-Djarot anak emas pemerintah. Warga Jakarta dipaksa percaya, kalau Anies jadi gubernur, Jakarta akan jadi dikuasai oleh ISIS. Maklum, mereka kan nggak paham yang mana pemerintah Suriah, yang mana ISIS. Jadi campur aduk.  Untungnya, warga Jakarta nggak mempan dengan provokasi murahan itu. Bahkan, tidak sedikit sembako yang ditaruh begitu saja di tiap pagar warga Jakarta, dilempar begitu saja  oleh pemilik pagar ke jalanan.

Sekarang politik ketakutan itu mau diulang lagi. Nissa Sabyan ditakut-takutin dengan isu murahan itu. Cuma satu hal yang mereka lupa, Nissa sudah bergabung dengan barisan akal sehat, hingga provokasi murahan itu nggak mempan. Nissa memang masih sangat muda. Tapi akal sehat nggak pilih tua atau muda.

Mungkin ada yang bilang, itu bukan pendapat Qureta, tapi pendapat penulisnya. Ah, masa bodo amat. Setiap tulisan yang masuk Qureta kan dimoderasi. Segala macam fitnah, dari mulai soal Nissa dijejali pundi-pundi yang besar, sampai fitnah kepada FPI, saya anggap fitnah dari Qureta.

Kalau soal HTI, pertanyaannya, pembela HTI ada di kelompok mana? Siapa yang ngebet dapat suara dari ex HTI dengan menarik gerbong Yusril? Soal sikap terhadap Ahmadiyah, sebaiknya cek jejak digital KH. Ma’ruf Amin sebagai ketua MUI.

Persoalan mendasarnya, kenapa segala tudingan carut marut  intoleransi dan semacamnya yang serem-serem itu  seluruhnya ditimpakan kepada FPI? Emangnya negara ini nggak punya presiden? Lima tahun ini apa yang diurus seputar soal itu? Katanya presiden nggak takut pada siapaun kecuali Allah. Masa kalah berani dengan SBY dan Gus Dur?

 Soalnya adalah, Nissa punya follower jutaan. Rata-rata kaum millennial. Dengan bergabungnya Nissa ke kubu 02, bikin kolam kepanasan. Cuma itu, kok. Lagian usil amat sih. Nissa mau milih siapa, kek. Kok situ yang sewot? Lagian, siapa suruh nyanyi lagu Deen Assalam, syair “Zainudin Yahtirom” jadi “ Jaenudin Naciro?”

Maaf, kalau terganggu dengan narasi yang bernada marah ini. Tulisan yang norak harus dibalas dengan norak yang sama. Impas deh.

Oleh: Balya Nur 
(Budayawan)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel